SEMINAR KESEHATAN DAN DONOR DARAH “Meningkatkan Pola Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat Desa Sindangasih”.

Ikuti Kami

foto Bersama KKN Unsil Dan Tutor Seminar Kesehatan

sindangasih.desa.id- PHBS adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikas, memberikan informasi dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, sehingga membantu masyarakat mengenali dan mengatasi masalah sendiri, dalam tatanan rumah tangga, agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara, dan meningkatkan kesehatan.

Ini yang melatarbelakangi KKN Universitas Siliwangi (UNSIL) Desa Sindangasih  mengadakan seminar kesehatan dengan tema “Meningkatkan Pola Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat Desa Sindangasih”. Bertempat di Gedung Aula Rapat  Desa Sindangasih, Kepala Desa Sindangasih,  yang di wakili Kasi Pemerintahan  Abdul Halim Amaruloh  untuk membuka seminar kesehatan ini secara resmi. Acara ini dihadiri pula oleh Perangkat Desa, Bidan Desa, Perwakilan BPD, Kepala Dusun sedesa Sindangasih, Ketua RT dan RW sedesa Sindangasih, Kader Desa dan Masyarakat setempat. Acara dimulai pukul 08.30 sampai selesai.

“Saya menyambut gembira dan memberikan penghargaan atas inisiatif penyelenggaraan seminar kesehatan ini. Tentu kita perlu mendukung dan mewujudkan apa yang nantinya akan menjadi tujuan dari seminar kesehatan ini”. Ujar  Abd Halim Amarauloh dalam sambutannya.

Tujuan diadakan seminar kesehatan ini adalah untuk meningkatkan kepekaan sosial mahasiswa terhadap lingkungan sekitar dan masalah yang terdapat di dalamnya, meningkatakn kesadaran masyarakat Desa Sindangasih mengenai Pola Hidup Bersih dan Sehat dan meningkatkan kualitas kesehatan di Desa Sindangasih.

Ibu Atih Ropiah, SK. M saat menjadi pembicara pada sesi pertama seminar kesehatan di Aula Desa Sindangasih

Seminar kesehatan ini dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, di isi oleh pembicara Atih Ropiah, SK. M yang membahas tentang Open Defecation Free (ODF) dan sesi kedua di isi oleh Lisnawati, AM. G sebagai pembicara yang membahas tentang stunting.

Doc KKN Unsil

Atih Ropiah, SK. M mengungkapkan, perilaku buang air besar sembarangan (BABS/Open Defecatin) termasuk salah satu contoh perilaku yang tidak sehat. BABS/Open  Defecation adalah suatu tindakan membuang kotoran atau tinja di ladang, hutan, semak – semak, sungai, pantai atau area terbuka lainnya  dan dibiarkan menyebar mengkontaminasi lingkungan, tanah, udara, dan air.  Dan faktanya di lingkungan kita masih banyak yang melakukan tindakan BABS tersebut.

Masyarakat harus mulai lebih peduli dengan kesehatan diri sendiri dan lingkungan dengan tidak lagi buang air besar sembarangan. Open Defecatian Free (ODF) adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan. Untuk mencapai masyarakat yang ODF, masyarakat yang bersih dan sehat perlu diingat, dipahami dan diterapkan 5 pilar STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yaitu : Stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabub, pengamanan air minum dan makanan, pengelolaan sampah dengan benar, dan pengelolaan ,imbah cair rumah tangga dengan aman.

“Kesehatan adalah kebutuhan yang mendasar, untuk itu kita perlu menyadarinya mulai dari diri sendiri dulu karena itu semua akan kembali kepada kita. Lingkungan bersih dan sehat akan menghasilkan masyarakat yang sehat juga”. Ucap beliau saat menjadi pembicara pada sesi pertama.

Ibu Lisna Wati, AM. G saat menjadi pembicara pada sesi kedua seminar kesehatan di Aula Desa Sindangasih

Doc. KKN UNSIL

Pada sesi kedua, Lisna Wati, AM.G membahas tentang masalah yang menjadi sorotan terutama di wilayah Kabupaten Tasikmalya yaitu masalah stunting. Beliau mengungkapkan, sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan  gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan dari kedua orang tuannya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa – apa untuk mencegahnya. Padahal sebenarnya stunting merupakan masalah yang  sebenarnya bisa dicegah.

“Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih” tutur Lisna Wati, AM. G.

 

 

 

 

 

Beliau juga berpesan agar masyarakat paham dan mengerti bahwa 1000 hari pertama kehidupan sangatlah penting, terbagi atas 270 hari pada saat kehamilan dan 730 hari setelah lahir. Gizi ibu hamil dan anak – anak harus dipenuhi karena gizi merupakan investasi bangsa. Dengan demikian diharapkan jumlah stunting akan semakin berkurang.  ( Rony Amaruloh ) webdesaid

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan